Kediri, lirboyo.com
Dalam rangka menyambut usianya yang menapaki satu abad, Panitia
Peringatan Satu Abad Pondok Pesantren Lirboyo menggelar acara
gelanggang bebas pencak dor di kompleks Aula Muktamar Lirboyo, Jumat,
(09/07) malam.
Acara tersebut diikuti oleh ratusan pendekar silat Jawa Timur dari
pelbagai perguruan. Puluhan ribu masyarakat dari belbagai daerah,
bahkan rela berdesak-desakan guna menyaksikan pertandingan mereka.
Divisi Publikasi Peringatan Satu Abad Lirboyo Emha Nabil Haroen kepada
NU Online mengatakan, “Pertandingan silat ini merupakan rangkaian
kegiatan ulang tahun pondok. Selain menggelar seminar dan kegiatan
bakti sosial, panitia juga bermaksud melestarikan budaya pencak silat
yang sudah mengakar di kalangan pesantren sejak dulu kala,” kata Nabil.
Pihak panitia juga menyiapkan mobil ambulans guna mengantisipasi jika
sewaktu-waktu pesilat yang bertarung mengalami pendarahan, tambah Nabil.
Dalam pagelaran pencak dor tersebut, para pendekar saling beradu
kesaktian di arena pertandingan yang terbuat dari bambu berukuran
sekitar lima meter dan beralaskan matras.
Menariknya, tidak ada peraturan khusus yang ditentukan panitia,
semuanya boleh bertarung secara bebas. Hanya saja, panitia meminta
peserta melepas ‘jimat-jimat’ yang mereka gunakan ketika akan
bertarung.
Masing-masing pesilat yang bertarung juga hanya mendapatkan nasi
bungkus. Namun, hal itu ternyata tidak melunturkan minat para pesilat
untuk bertarung.
Antusiasme masyarakat terhadap pencak silat juga relatif tinggi.
Puluhan ribu masyarakat dari pelbagai daerah rela berdesak-desakan guna
menyaksikan pertandingan pencak dor. Saking banyaknya pengunjung yang
datang, nuansa emosional dalam pagelaran pencak dor tersebut begitu
kentara. Insiden-insiden kecil pun sempat menyeruak.
Hal itu terlihat ketika para penonton penglihatannya merasa terhalangi
orang-orang yang berkerumun di atas panggung. Penonton melemparkan batu
dan sandal agar orang-orang yang mengganggu penglihatan mereka segera
menyingkir.
Salah satu pembantu wasit yang terkena lemparan merasa gerah dan
mengacungkan tangan mengancam pada penonton. Namun, amukan massa tidak
mereda dan justru memintanya turun untuk bertarung. Untungnya, panitia
bertindak cepat untuk menyelesaikannya. Sehingga pertarungan massal pun
dapat terhindarkan.
Sekedar catatan, pesantren Lirboyo dulu memang terkenal banyak
melahirkan pendekar-pendekar pencak silat. Salah satu Pengasuh
Pesantren Lirboyo yang dikenal memiliki kanuragan tinggi almarhum almaghfurllah KH. Maksum Jauhari (Gus Maksum), pendiri Perguruan Pencak Silat Pagar Nusa (PN).
Selain dikenal memiliki sikap rendah hati dengan ketinggian ilmu agama
dan pencak, Gus Maksum juga dikenal memiliki kedekatan emosional dengan
masyarakat di luar pondok. Sejak zaman kolonialisme hingga era
reformasi Gus Maksum selalu berada di pihak masyarakat untuk
menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi.
Pagelaran pencak dor rencananya akan digelar kembali pada tanggal 17
juli mendatang. Dan untuk malam ini, Panitia Satu Abad akan menggelar
sepak bola api guna mewarnai histeria final piala dunia. (mka)