TNI Jalin Kerjasama dengan Pesantren
Berkaitan dengan munculnya beragam fenomena yang berpotensi besar mereduksi
kedaulatan bangsa Indonesia, seperti munculnya gerakan sparatis lokal di Papua
dan Maluku, berkembangnya ideologi trasns-nasional, baik itu berupa agama,
ekonomi, kebudayaan, dan lain-lain, Tentara Negara Indonesia (TNI) berencana
menjalin kerjasama dengan pesantren dalam upaya membangun dan mempertahankan
keutuhan Negara Indonesia. Hal itu terungkap dalam seminar nasional bertajuk;
"Peran Pesantren dalam Membangun Pertahanan Nasional" di kompleks
Aula Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Kamis, (08/07) siang.
Dalam seminar tersebut, setidaknya ada tiga poin penting yang disampaikan
dan patut diwaspadai oleh masyarakat berkaitan dengan kedaulatan Negara
Indonesia. Pertama, maraknya isu Pan-Islamisme dengan mengusung tema Khilafah
Islamiyyah. Konferensi Khilafah Internasional oleh Hizbuttahrir Indonesia
(HTI) di Istora Senayan beberapa waktu lalu, dapat disebut sebagai bentuk
ekspose idieologi ini. Kedua, ideologi trans-nasional kebudayaan. Dengan
dukungan media yang 'bebas', ideologi ini semakin berkembang massif dan
mengakibatkan pergeseran cara berpikir dan berprilaku masyarakat yang
konsumtif, instan, dan cenderung tidak lagi menghargai dan melestarikan
kebudayaan lokal.
Ketiga, ideologi
trans-nasional dalam bidang ekonomi. Praktek ekonomi liberal yang menggunakan
rezim pasar bebas merupakan cerminan berkembangnya ideologi ini. Maraknya
perang dagang antar negara dan praktik dumping merupakan ancaman terhadap
eksistensi ekonomi lokal dan nasional. Sehingga, cepat atau lambat akan berimbas
pada kebangkrutan ekonomi baik dalam skala lokal maupun nasional.
Ideologi-ideologi tersebut di atas dianggap berpotensi besar menggempur
kesatuan bangsa ini.
Komandan Sunardi yang hadir dalam seminar mewakili Pangdam V Brawijaya,
Suwarno, kepada Lirboyo.com mengatakan, "Pertahanan nasional itu
terdiri dari ketahanan ideologi, politik, sosial budaya, ekonomi, dan keamanan.
Ketika salah satu ketahanan komponen tersebut rapuh, maka akan berpengaruh
buruk pada ketahanan komponen yang lain," kata Sunardi dalam jumpa
persnya.
Lebih lanjut, ketika ditanya mengenai apa peran santri guna memperkokoh
pertahanan nasional, Komandan Sunardi mengatakan, "Dalam Undang-Undang
Nomer 34 Tahun 2004 tentang TNI atau termasuk UU Pertahanan RI disebutkan
bahwa, sistem pertahanan negara itu terdiri dari tiga komponen; komponen utama,
komponen cadangan, dan komponen pendukung. Komponen utama itu TNI dan Polri,
komponen cadangan rakyat terlatih, dan komponen pendukung adalah sumber daya
alam serta masyarakat. Nah, santri-santri pondok pesantren itu apabila dilatih
dapat menjadi cadangan nasional dalam pertahanan nasional," kata Komandan
Sunardi dalam jumpa persnya.
Mengenai pelatihan apa yang akan diberikan TNI kepada para santri, Sunardi
mengatakan masih menunggu undang-undang tentang komponen cadangan yang saat ini
masih digodok kementrian pertahanan dan akan diajukan ke DPR untuk disahkan.
Jika undang-undang tentang komponen cadangan sudah disahkan, maka akan segera
diadakan pelatihan-pelatihan.
Sementara itu, menanggapi asumsi masyarakat yang menganggap bahwa teroris
itu lahir dari pesantren, Sunardi mengatakan, "Salah besar kalau pesantren
itu dikatakan sarang teroris, pesantren itu sarang ulama. Saya tidak setuju
itu," katanya.
Dalam catatan sejarah, peran serta pondok pesantren dalam membangun dan
mempertahankan keutuhan Negara Indonesia memang cukup besar. Sebagai lembaga
pendidikan tradisional yang telah berdiri jauh sebelum Negara Indonesia
terbentuk, pondok pesantren pada masa revolusi fisik merupakan salah satu pusat
gerilya dalam perang melawan Belanda. Banyak santri membentuk barisan Hizbullah
yang kemudian menjadi embrio terbentuknya Tentara Nasional Indonesia. Lebih
dari itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa pesantren merupakan kubu pertahanan
mental pada masa-masa kolonial. Artinya, pesantren tidak hanya sebagai lembaga
pertahanan fisik terhadap intimidasi dan senjata penjajah, namun pesantren juga
menjadi kubu pertahanan yang bersifat mental ataupun moral.
Jika di era kolonialisme pesantren berperan sebagai kubu pertahanan rakyat
dalam melawan penjajah, maka pada era globalisasi ini pesantren kembali
ditantang untuk berkiprah dan menjadi solusi bagi masalah yang dihadapi bangsa
ini. Sebab itu, pesantren perlu membekali santri-santrinya dengan beragam fan
keilmuan agar kelak tidak hanya mewarnai bangsa ini, namun mampu membawanya
menuju ke tahap sebagai negara yang baldatun thayibatun wa rabbul ghafur. Semoga.
(mka)