Kediri, Lirboyo.com
Sekitar 40.000 warga yang terdiri dari santri dan masyarakat menghadiri acara
Istighasah Kubro dan Maulid Akbar Bersama 100 Kiai dan Habaib di kompleks Aula
Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Minggu, (04/07) malam. Acara yang merupakan rangkaian
kegiatan Peringatan Satu Abad berdirinya Pondok Pesantren Lirboyo tersebut,
selain diharapkan membawa berkah bagi eksistensi Lirboyo sebagai salah satu
pesantren tertua di Jawa Timur, juga membawa berkah bagi kesejahteraan bangsa
Indonesia.
Membanjirnya jamaah yang hadir membuat panitia acara istighasah sempat
kewalahan. Lokasi acara yang berukuran sekitar 8 hektar seolah tak mampu lagi
menampung massa. Ketua Pelaksana Istighasah, Ust. Mukhlas Noer kepada Lirboyo.com
mengatakan, “Panitia menyiapkan nasi bungkus sekitar 31.000, namun baru sekitar
pukul 21.00 WIB nasi sudah habis. Padahal, jamaah masih terus berdatangan, kata
Mukhlas ketika ditemui Lirboyo.com di sela-sela acara.
Sebelum istighasah berlangsung, hadirin dihibur dengan musik gambus yang
dibawakan oleh vokalis yang sedang naik daun, Habib Hasyim Abdullah. Puluhan
ribu hadirin yang sudah menyesaki lokasi acara begitu terpukau dengan suara
merdunya.
Memasuki acara, KH. Abdul Aziz Manshur mewakili dzuriyyah almaghfurllah KH.
Abdul Karim, Pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, dalam sambutannya mengatakan, “Tujuan
utama digelarnya istighasah ini adalah memohon kepada Allah agar Pondok
Pesantren Lirboyo diberikan kesejahteraan supaya tetap eksis ila yaumil
qiyamah. Yang kedua, mendoakan Negara kita agar supaya segera diberikan
tuma’ninah, sakinah, oleh Allah Swt, sehingga menjadi negara yang baldatun
thayibatun wa rabbul ghafur,” tutur Kiai Aziz.
Senada dengan Kiai Aziz, Pengasuh Pesantren Lirboyo, KH. A. Idris Marzuqi
mengatakan, “Saya haturkan ribuan terima kasih atas kerawuhan al mukaramun para
habaib, para ulama, dan hadirin sekalian. Kami mohon doa restu agar Lirboyo
tetap eksis melahirkan santri-santri yang pinter dengan akhirat, tidak hanya
pinter dengan perkara dunia. Sebab, Allah menyampaikan, “Allahu yubghidlu
‘aliman fi dunya jahilan fi al akhirat,” Allah murka kepada orang yang
hanya pinter perkara dunia, tapi tidak paham ilmu akhirat. Ini adalah musuh
Allah! Sebab itu, kami mohon doa restu sekalian agar Lirboyo tetap kukuh
melanjutkan ilmu warisan ulama-ulama salaf,” tutur Kiai Idris.
Sementara itu, Ketua Syuriah Pengurus Wilayah Nadlatul Ulama Jawa Timur,
KH. Miftahul Akhyar, mewakili PWNU menyampaikan rasa bangga dan harapan besar
kepada Lirboyo. Ia juga berharap, dengan adanya istighasah, berkah yang sudah
menjauh dari bangsa Indonesia bisa kembali lagi. Dengan menyertakan dalil Al
Quran, Kiai Miftah mengatakan, “Istighasah adalah suatu kekutatan yang tidak
terbandingkan. Ingatlah dengan dzikrullah, dengan istighasah, maka hati akan
menjadi tenang. Kisruhnya suatu negara, ruwetnya suatu rumah tangga, ruwetnya
hubungan, itu adalah cermin dari ruwetnya hati manusia. Kalau hati ini sudah
ditenangkan dengan dzikrullah, saya yakin semuanya bisa diselesaikan dengan tuma’ninah,
dengan tenang. Dan itulah yang dahulu dilakukan oleh ulama salaf,” tutur Kiai
Miftah.
Saya yakin, tambahnya, berkah yang kita harapkan, berkah yang saat ini
sudah menjauh dari Negara kita, dengan istighasah ini bisa ditarik kembali ke
tempat semula. Dan Lirboyo menjadi salah satu sumber berkah itu.
Hadirin kemudian mengikuti istighasah bersama yang dipimpin oleh Habib
Sholeh al Jufri, Solo. Istighasah kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin
oleh KH. Mas Subadar, Pasuruan, dan Habib Husein Assegaf, Gresik. Usai
istighasah, para hadirin juga diajak membaca shalawat Simthu Dluror yang
dipimpin oleh Habib Ali bin Alwi bin Ali al Habsy dan Habib Alwi bin Ali bin Alwi
bin Ali al Habsy.
Sebagai puncak acara, Habib Umar al Muthahar, Semarang, memberikan mau’dlah
hasanah kepada para hadirin. Dalam ceramahnya, Habib Umar mengatakan, “Istighasah
itu adalah doa meminta pertolongan kepada Allah. Meski istighasah kelihatannya
hanya seperti ini saja, hanya kegiatan-kegiatan angkat tangan tok,
membaca wiridan, membaca kalimah-kalimah thayyibah, membaca maulid, seolah-olah
ada yang mengatakan, ”Layamutu wala yahya, wes ora mutu tapi
ngentekne biaya. Itu kalau kata orang yang tidak tahu rahasianya
istighasah,” tutur Habib Umar yang kemudian diiringi gelak tawa para hadirin.
Dengan menyertakan sebuah hadis, Habib Umar mengatakan bahwa doa itu mampu
merubah keadaan yang tidak baik menjadi baik, apalagi yang sudah baik.
Terlebih, istighasah ini diikuti oleh para habaib, para ulama, dan puluhan
ribuh jamaah, insya Allah mudah terkabulkan. (kan)